Selasa, 27 Maret 2012

Gedung muda

Masih pagi sekali aku memulai suatu aktifitas, nampaknya hanya ada setengah semangat yang menuntun badan untuk harapan. Dan sisanya adalah dia, dia ada untuk mendorong aku yang bermata sayup di pagi itu untuk lebih bersemangat. Terimakasih dia!
Dia? Siapa dia itu?
Aku kurang tau tentang dia. Tapi, dia selalu ada bersama-sama untuk setiap pagiku.
Lantas mau apa dia?
Sudahlah, aku tidak ingin berpanjang-panjang untuk dia, yang jelas dia adalah sesuatu yang  bersembunyi dan dikuatkan oleh keterpaksaan pada jejaknya.
Pagi itu aku bersiap untuk sebuah tempat yang khalayak sebut itu ruang ilmu. Tapi tidak denganku, aku lebih gemar menyebut tempat itu sebagai gedung muda. Tempat dimana orang-orang saling meninggi dengan materi yang mereka dapatkan jauh dari sebrang negri ini dan berlomba-lomba untuk membuka pakaian mereka untuk kemudian membuang-memungut kembali pakaian mereka sampai mereka lelah dan puas. Dan sampai saat ini tempat itu masih menjadi sebuah tempat yang angker untuk kusinggahi pada setiap hari.
Dalam pagi yang terlalu gelap pada waktunya aku pun menyinggahi gedung itu. 

Dan seperti biasa, di sini mentari seperti tidak pernah terbit sehingga terasa selalu memusuhiku di kala pagi yang aku harap akan terangnyapun tiada membiaskan sinar. Memilukan adanya, dengan keterpaksaan yang tak pernah disambut oleh suatu hal yang sangat berperan penting di balik kelanjutan hidup yang wajar.

Kini aku mulai berpikir tentang suatu hal tak wajar yang kerap terjadi pada setiap pagi yang tersinggahi. Dan sangat sulit untuk menerima akan penyebab hal itu. Betapa tidak? Di gedung itu, gedung muda yang orang-orang kagumi akan kehadirannya adalah penghambatku untuk dapat bergurau bersama mentari. Menjulang tinggi, jendela-jendela silau yang memantulkan cahaya ke arah langit, sudut bangunan yang sejajar dengan awan. Sehingga tiada sedikitpun celah cahaya mentari yang menembus awan untuk menyinari setiap yang berada di kaki gedung.
Kini aku hanya bersandar di bawah pohon tua yang kering, dan pada batangnya yang rapuh tanpa sinar aku pun sedikit menggoresnya dengan bahasa :

Pada suatu pagi di gedung muda
Suaraku keras bernyanyi sumbang
Di bawah pohon kering tanpa sinar
Dan iringan gitar tanpa senar

Di sini,
Gedung adalah peneduh pohon
Lalu,
Pohon adalah pantatnya
Dan semua membalikan yang wajar

Lalu, aku kembali mengamati goresan di batang pohon yang telah ku goreskan. Terlihat rancu, seperti seseorang yang patah hati karena sebuah cinta atau karena kehilangan seseorang yang sangat berarti untuknya, bahkan mungkin lebih dari sebuah kata patah hati. Maka jika ada kata yang lebih tepat untuk menamai bait di batang pohon tersebut akan ku namakan “bahasa putus nadi”, putus nadi seperti saat merasakan keterasingan di kala pagi yang tidak pernah wajar menyambutku di balik gedung muda.- Inilah sekilas tentang suatu hal yang menyebabkan putus nadi pada setiap pagi -

16 - 03 - 2012
Kamar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar